Belajarlah berdemokrasi di kampung saya, terutama ketika krisis kepemimpinan di tahun-tahun terakhir mengancam kampung saya. Mulai saat itu, tak ada lagi tetangga saya yang secara sukarela mau menjadi ketua RT. Ini soal gawat. Kampung saya akan berjalan tanpa pemimpin. Surat menyurat akan kacau. Tidak ada tempat untuk mengadu. Padahal, lihatlah tugas pak RT berikut ini:
Jika di kampung ada gropyok-an msialnya, ada orang pacaran hingga kemalaman dan membuat anak-anak muda kampung marah, di rumah Pak RT-lah pasangan bermasalah itu disidang. Jika ada istri lari ketakutan dikejar suami yang kalap oleh sebuah pertengkaran, kepada Pak RT-lah warga minta perlindungan. Jika ada tetangga meninggal dan si empunya musibah kebingungan, Pak RT yang harus berdiri di depan. Menyiapkan semua perlengkapan, mulai dari tenda dan kursi sampai berpidato di upacara pemakaman.
Jika kampung sedang kekurangan dana kerena pembangunan macet atau karena akan berlangsung perayaan Agustusan, Pak RT-lah yang harus menyelesaikan. Jika perlu, ia akan mendatangi pintu demi pintu untuk mencari donatur tambahan. Jika ia menganggap penarikan ini memberatkan, ia bisa menomboki dengan duitnya sendiri. Jika ada tetangga sakit ia harus mejadi orang pertama yang menjenguk dan berempati.
Jika ia sakit harus diopname di rumah sakitk Pak RT harus memobilisasi massa untuk membesuk. Mengatur siapa yang bermobil dan siapa yang bersepeda motor. Siapa yang berboncengan dengan siapa dan siapa yang harus nebeng mobil siapa. Jika kampung hendak piknik bersama, Pak RT harus menjadi panglima. Seminggu sebelumnya ia telah meriset lokasi. Pada hari pemberangkatan ia harus berangkat lebih dulu untuk memastikan keadaan. Ketika rombongan mulai pulang ia harus ada di deretan paling belakang untuk meyakinkan bahwa tak ada segala sesuatu yang ketinggalan.
Jadi jelas sudah, dengan tugas seberat ini, tugas tanpa bayaran yang kurang sesuai dengan UMR tapi rawan omelan, akan membuat siapapun akan terancam kelelahan. Tetangga paling mulia pun akhirnya harus angkat tangan jika fungsi sosial ini tidak digantikan. Tapi, para penggganti itu tak ada lagi karena semuanya gentar dan ngeri menerima tugas yang dahsyat ini. Kami lalu hanya bisa saling pandang. Seluruh tokoh yang kami pandang mampu telah pernah mengambil bagian. Dan dengan senyum sabar, dengan suara tenang, keputusan mereka telah tak lagi tergoyahkan. “Bahwa semua harus ambil bagian!” kata para pejabat lama itu yakin, berwibawa, tak terbantahkan.
Oalah, betapa iri kami melihat orang-orang yang telah menunaikan kewajiban ini. Betapa bagi orang yang telah mengambil bagiannya ini, kata-katanya begitu bertenaga. Penolakannya adalah fatwa dan keteguhannya membuat kami grogi. Karena kami tahu para RT itu adalah putra-putra kampung terbaik. Mereka datang dari golongan yang ideal: mampu sekaligus mau. Sedang kami, orang-orang yang tersisa ini?
Bisa jadi kami adalah orang mampu, tapi tak mau. Bisa jadi kami orang yang mau tapi tak mampu. Atau bisa juga yang tinggal, termasuk diri saya ini sekadar orang-orang yang tak mampu sekaligus tak mau. Jadi, keputusan orang-orang yang mampu dan mau itu untuk menolak menduduki jabatan itu lagi bisa berupa sindiran bagi orang yang mampu tapi tak mau. Merupakan tantangan bagi orang yang mau tapi tak mampu. Tapi merupakan musibah bagi orang yang tak mau sekaligus tak mampu. Inilah orang-orang yang amat membutuhkan kepemimpinan!
Di antara ketiga golongan itu, tak jelas, di mana kedudukan saya. Tapi, termasuk golongan apakah saya ini, sebetulnya saya lebih ingin dipimpin saja, terutama oleh pihak yang mau sekaligus mampu. Tapi, karena pihak yang mampu dan mau itu sudah memutuskan tak mau, tinggallah golongan terbaik kedua: yakni yang mampu tapi tak mau. Masalahnya, menunggu golongan ini acung jari menawarkan diri jelas tak mungkin karena dasarnya mereka tak mau meski mampu.
Karena tak mungkin menunggu kesanggupan golongan ini, standar itu kami turunkan lagi. Baiklah, dipimpin orang tak mampu pun tak mengapa yang penting ada yang mau. Tapi, mengharapkan orang yang tak mampu untuk mau juga mustahil karena orang ini pasti cuma akan menjadi korban rendah dirinya sendirinya. Lebih mustahil lagi mengharap orang yang sudah tak mampu, tapi tak mau.
Lalu, yang berlangsung di kampung saya kemudian adalah mekanisme demokrasi murni. Pemilihan pemimpin bukan dengan cara pilihan tapi kropyokan! Semua nama warga, kecuali RT lama ditulis dalam kertas, dimasukkan dalam kaleng, tak peduli siapapun dia, jika namanya muncul dalam “kaleng demokrasi”, ia harus mau memegang jabatan, tak peduli apakah ia adalah pihak yang tak mau adan tam mampu. Keropyokan RT selanjtunya akan dicerikan pada serambi selanjutnya. Semoga bisa sebagai renungan warga semuanya.
| Tentang Pemilihan Ketua RT | 0 |
.gif)
.gif)
0 Responses So Far:
tulis komentar disini